Abstrak

Kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik. Sebuah gambar kartun yang mengandung sebuah kritikan yang dimuat sebuah koran atau majalah dan dimuat di rubrik opini adalah kartun editorial (editorial cartoon).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana makna yang terkandung dibalik konfigurasi objek-objek visual pada kartun editorial karya kartunis dengan mempertimbangkan kondisi sosial politik dan kecenderungan pola visual pada karya tersebut.

Dengan mengkaji lewat makna kartun editorial merupakan salah satu karya seni yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami dinamika sosial yang sedang terjadi di masyarakat. 

Dengan melalui pendekatan ikonografi dan ikonologi dari Erwin Panofsky memberi tiga tahapan dalam menganalisis, yaitu sebagai tahap awal untuk mendiskripsikan ciri-ciri visual yang tampak (tahap preiconographical), tahapan untuk mengidentifikasi makna sekunder dengan melihat hubungan antara motif sebuah seni dengan tema, konsep atau makna yang lazim terhadap peristiwa yang diangkat oleh sebuah gambar (tahap iconography), dan tahapan melakukan interpetasi dengan mempertimbangkan pemaparan mengenai obyek dari kartunis (tahap iconology).

Key words : kartun editorial, makna, ikonografis.

Pendahuluan

Kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentasi dan simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga menjadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai kepribadian seseorang. Dengan kata lain, kartun merupakan metafora visual hasil ekspresi dan interpretasi atas lingkungan sosial politik yang tengah dihadapi oleh seniman pembuatnya (Nugroho, 1992:2).

Kritik kartun sebenarnya hanya usaha penyampaikan masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang mengkritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, dengan harapan akan adanya perubahan. Aspek pertentangan dalam tradisi penciptaan kartun sebenarnya bukanlah lebih mementingkan naluri untuk mengkritik, melainkan lebih menekankan fakta-fakta historis bahwa masyarakat telah memasuki bentuk komunikasi politik yang modern, dan tidak lagi mempergunakan kekuatan atau kekuasaan (Anderson, 1990:162).

Untuk mengetahui makna dan pola visual  yang terdapat pada kartun editorial karya kartunis, maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan ikonografi dan ikonologi. Dalam penelitian ini yang menitikberatkan pada penelaahan makna dalam kartun politik, perlu kemampuan dalam menginterprestasikan makna yang terkandung di dalamnya.

Pengertian dan Klasifikasi Kartun

Pengertian kartun yang sebenarnya adalah meminjam istilah dari bidang  fine arts. Kata kartun berasala dari bahasa Itali cartone yang berarti ”kertas”. Kata kartun pertama-tama digunakan untuk menyebut desain atau sketsa dalam ukuran penuh untuk lukisan cat minyak, permadani atau mozaik. Kata tersebut memperoleh arti yang dikenal orang masa kini secara kebetulan.

Beberapa desainnya sangat buruk sehingga Punch mereproduksi kartun-kartun yang dimaksudkan untuk desain itu, lalu menerangkannya dengan nada sindiran. Lahirlah kartun Punch, dan kata itupun lalu memperoleh arti barunya. ”Punch” merupakan majalah satir yang menjadi media kritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai aspirasi masyarakat. Sejak saat itu kata ”cartoon” mulai dipakai untuk menyebut gambar sindir (Wagiono, 1983:33).

Pengertian kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga menjadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai kepribadian seseorang. (Setiawan, 2002:34)

Terkait dengan pengertian kartun, pendapat GM Sudarta, seperti yang dikutip Alex Sobur (2003:138) menjelaskan bahwa kartun adalah semua gambar humor, termasuk karikatur itu sendiri. Satu hal yang kemudian dapat disimak adalah pernyataan dari Smith (1981:9) : …in fact ’cartoon’ and ’caricature’ are here regarded as exactly synonymous. Apa yang diungkapkan Smith merupakan pendapat yang dapat menjembatani perbedaan mengenai kartun dan karikatur.

Dalam The Encyclopaedia of Cartoons (Horn, 1980:15-24), pengertian ”cartoon” dibagi lagi menjadi empat jenis sesuai dengan kegiatan yang ditandainya, yaitu : Comic Cartoon, Gag Cartoon untuk lelucon sehari-hari, Political Cartoon untuk gambar sindir politik, Animated Cartoon untuk film kartun.

Pengertian Kartun editorial (editorial cartoon) yang digunakan sebagai visualisasi tajuk rencana surat kabar atau majalah. Kartun ini biasanya membicarakan masalah politik atau peristiwa aktual sehingga sering disebut kartun politik (political cartoon). Dalam kartun politik, seringkali muncul figur dari tokoh terkenal yang dikaitkan dengan tema yang sedang hangat-hangatnya yang terjadi di dalam masyarakat. Karikatur bisa saja muncul dalam sebuah karya kartun editorial untuk menampilkan tokoh yang disindir (Priyanto,2005:4).

Tinjauan Mengenai Pendekatan Ikonografis

Pemakaian metode ikonografi dan ikonologi digunakan dalam menganalisis interpretasi tersebut. Seperti Theo Van Leeuwen mengatakan bahwa ikonografi membedakan tiga lapisan arti gambar : arti/makna gambar (representational meaning), simbolisme ikonografi (ionographycal symbolism), dan simbolisme gambar/ikon (iconological symbolism) (Van Leeuwen, 2001: 100).

Erwin Panofsky menjelaskan dalam ikonografi merupakan kajian yang memperhatikan konfigurasi dari gambar pada suatu karya untuk mengetahui makna yang tersembunyi. Selanjutnya Panofsky memberi tahapan dalam menganalisis, yaitu tahap preiconographical, iconography, dan iconology.

Sebagai salah satu kajian mengenai interpretasi sebuah makna dalam karya seni rupa adalah iconography (iconografi) dan iconology (iconologi). Melalui pendekatan iconography (ikonografis) dan iconology (ikonologi) maka sebuah pesan piktorial dapat diinterpretasikan makna yang terkandung didalamnya. Sebagai salah satu kajian tentang interpretasi makna karya seni rupa, ikonografi merupakan pendekatan yang mempertanyakan representasi dan makna yang tersembunyi dari sebuah karya visual (Van Leeuwen, 2001:93).  

Berasal dari bahasa Yunani, kata iconography, terdiri atas kata aekon yang berarti sebuah gambar dan kata graphe yang berarti tulisan. Ikonografi yang lazim dimengerti sebagai kajian tentang tanda yang memiliki referensi, merupakan sebuah ladang luas yang objeknya kajiannya mencakup berbagai disiplin pemikiran. Ikonografi merupakan cabang dari sejarah seni yang memiliki pokok kajian yang berkaitan dengan sisi manusia (subject matter) atau makna dari suatu karya seni sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan bentuk karya tersebut (sisi formalisnya).

Ikonografi membedakan tiga lapisan arti gambar : arti/makna gambar (representational meaning), simbolisme ikonografi (iconographycal symbolism), dan simbolisme gambar/ikon (iconological symbolism) (Van Leeuwen, 2001: 100).

Ikonografi merupakan cabang dari sejarah seni yang memiliki pokok kajian yang berkaitan dengan sisi manusia (subject matter) atau makna dari suatu karya seni, sebagai sesuatu yang bertolak belakang dengan bentuk karya tersebut (sisi formalisnya) (Panofsky, 1939 : 3).

Menurut Panosfky, proses menginterpretasi obyek seni dan gambar dapat melalui tiga tahapan, analisis makna secara ikonografi dan ikonologi, yaitu :

1.Tahap Preiconographical

Tahapan untuk mengidentifikasi melalui hal-hal yang lazim dan sudah dikenal (alami). Tahapan ini dapat disebut pemahaman secara faktual dan ekspresional. Pemahaman ini didasarkan atas pengalaman masing-masing individu terhadap suatu objek gambar. Dengan mengamati dengan mengindentifikasi unsur artistik dari objek gambar (konfigurasi tertentu dari garis dan warna, atau bentuk dan material yang merepresentasikan objek keseharian tertentu), hubungan-hubungan yang terjadi pada objek dan identifikasi kualitas ekspresional tertentu dengan melakukan pengamatan pose atau gesture dari objek.

2.Tahap Iconographical

Tahapan untuk mengidentifikasi makna sekunder dengan melihat hubungan antara motif sebuah seni dengan tema, konsep atau makna yang lazim terhadap peristiwa yang diangkat oleh sebuah gambar. Motif-motif yang kemudian dikenali sebagai pembawa makna sekunder disebut sebagai image/citra/wujud.

3.Tahap Interpretasi Ikonologi

Pada tahapan ini makna yang paling hakiki dan mendasar dari isi sebuah karya kartun benar-benar dipahami. Pemahaman mengenai makna intrinsik yang terdapat dalam sebuah objek diperoleh dengn mengungkapkan prinsip-prinsip dasar yang kemudian dapat menunjukan perilaku sikap dasar dari sebuah bangsa, kurun waktu, strata sosial, ajakan religius atau filosofis tertentu.

Memahami iconologi lebih dari sekedar mencari gejala, tetapi merupakan interpretasi yang mendalam dari pengetahuan teknis mengenai produksi seni, melalui pengetahuan iconographical yang luas menuju sebuah kesimpulan (Ross Woodrow, 1999:3).

Analisa Karya Kartun Editorial Melalui Ikonografis

Pembahasan yang digunakan untuk menganalisis karya kartun editorial melalui tiga tahapan seperti analisis makna secara ikonografi dan ikonologi oleh Erwin Panofsky dimana ketiga tahapan itu berlangsung berurutan.  Dalam hal ini mengambil contoh kartun editorial karya T. Sutanto yang dimuat dalam Mingguan Mahasiswa Indonesia, No. 36 Th. II Pebruari 1967.

Gambar 1. Jatuhnya Kekuasaan Soekarno, Mingguan Mahasiswa Indonesia, No. 36 Th. II Pebruari 1967, Sumber : Repro Dok. Narsen

 Tahapan-tahapan analisis tersebut, yaitu :

Tahap Preiconographical. Dengan mengamati dengan mengindentifikasi unsur artistik dari objek gambar (konfigurasi tertentu dari garis dan warna, atau bentuk dan material yang merepresentasikan objek keseharian tertentu), hubungan-hubungan yang terjadi pada objek dan identifikasi kualitas ekspresional tertentu dengan melakukan pengamatan pose atau gesture dari objek. Pada tahap ini akan mendeskipsikan ciri-ciri visual yang tampak pada karya kartun editorial yang sudah melalui seleksi.

Tahap Iconographical. Tahapan untuk menganalisa rangkaian gambar dengan memperhatikan peristiwa yang berhubungan antara karya serta situasi sosial yang terjadi di dalam masyarakat pada saat itu.

Tahap Interpretasi Ikonologis. Disini akan melakukan interpretasi dengan mempertimbangkan pemaparan mengenai gambar dari pembuat kartun tersebut, disini adalah kartunis. Pada tahapan ini makna yang paling hakiki dan mendasar dari isi sebuah karya kartun benar-benar dipahami.

Pada karya ini, T. Sutanto menempatkan figur Soekarno sebagai figur yang dominan dengan penggambaran postur yang lebih menonjol dengan seluruh badan terlihat dibandingkan dengan figur-figur lain yang tampil dalam kartun tersebut. Bentuk lain yang menyertai kartun poltik tersebut antara lain tangan yang besar yang berusaha menggulingkan kekuasaan Soekarno secara sah dan sesuai konstitusional.

Untuk mengetahui makna yang terkandung pada kartun ini, secara bertahap akan diuraikan berbagai aspek pada karya kartun :

a. Deskripsi Preiconographical

Dengan posisi gambar horizontal, dalam kartun ini tampak dua figur manusia. Sosok sentral pada kartun ini adalah figur laki-laki dengan memakai peci dan kaca mata, memakai bintang jasa yang banyak sekali di setelan jas. Figur laki-laki ini sedang berdiri tegak sambil mengacungkan ujung jari ke atas dalam posisi membacakan pidato dengan semangatnya. Figur laki-laki dalam posisi pengambilan gambar long shoot. Dengan pandangan lurus ke samping dengan bibir yang sedang berpidato. Di kedua tangannya memegang teks pidato yang berwarna hitam dengan tulisan MANIPOL (Manifesto Politik), RESOPIM, NASAKOM (Nasionalisme, Agama, Komunisme) berwarna putih. Garis membentuk kontur dari gambar figur yang sederhana namun mengacu pada karakter wajah seseorang.

Dengan posisi di bagian samping kanan figur sebuah tangan besar yang menggunakan pakaian resmi (setelan jas) berwarna hitam yang sedang berusaha mengangkat podium yang digunakan Presiden Soekarno untuk berpidato dengan sebuah tumpukan buku yang berjumlah dua buah.

Dimana dalam kedua buku berwarna putih tersebut bertuliskan UUD’45 dan Pancasila dengan warna teks hitam. Gambar tangan diposisikan dalam gambar dengan pengambilan close up. Untuk memberi kesan gerak, maka di sebelah kanan figur Soekarno yang sedang terguling ada goresan garis (moving line) serta kepulan asap untuk memberi efek yang dramatis dan dinamis.

b. Analisa Iconographical

Kartun ini berkaitan dengan momen jatuhnya pemerintahan Soekarno dimana masih berusaha memegang pusat pemerintahan tetapi kharisma magisnya tidak berfungsi lagi. Soekarno akhirnya jatuh dan pada tanggal 12 Maret 1967 melalui MPRS dipaksa menanggalkan semua kekuasaan dan gelar Soekarno serta mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden.

Tema dari kartun ini adalah memperlihatkan hubungan antara era Soekarno dengan ideologinya yang bertentangan dengan UUD’45 dan Pancasila sampai akhirnya jatuh kekuasaan ke Soeharto melalui MPRS.

Berikut ini analisa ikonografi dari gambar yang terdapat kartun yang bertema tentang turunnya  kekuasaan Soekarno :

  1. Dilihat dari pesan artifaktual pada kartun ini, terdapat figur yang apabila dilihat ciri-ciri fisik dan asesories pakaian yang dipakainya merupakan bentuk figur Soekarno. Walau tanpa garis yang detail, karakter wajah dan figur Soekarno tampak jelas. Ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Soekarno adalah sebagai orator yang ulung dengan semangat yang menyala-nyala. Figur Soekarno dengan mengenakan peci hitam dan jas beserta bintang medali penghargaan menunjukkan pesan artifaktual sebagai pejabat negara (presiden). Figur Soekarno memegang teks pidato yang bertulis MANIPOL, RESOPIM, dan NASAKOM.. Teks ini berkaitan ideologi yang dipakai dalam menjalankan pemerintahan Soekarno pada waktu itu. Pesan fasial dari gambar suatu keadaan yang ironis dimana Presiden Soekarno sedang pidato dengan semangat untuk mengagung-agungkan ideologi MANIPOL, RESOPIM, dan NASAKOM, tetapi di sisi lain malah berada dalam posisi turun dari kekuasaan sebagai Presiden.
  2. Figur lain adalah bentuk tangan yang besar yang sedang berusaha menggulingkan podium dengan menarik dua buku sebagai landasan tempat Soekarno berdiri. Kedua buku trsebut sebagai wujud dari konstitusi negara yaitu UUD’45 dan Pancasila. Gambar tangan dan kedua buku merupakan metafora dari keadaan politik pada waktu itu dimana pemerintahan Soekarno sudah melenceng dari ideologi negara. Garis yang cenderung ekspresif pada kartun ini lebih ditujukan untuk meyampaikan pesan secara langsung. Wajah Soekarno tidak memerlukan teknik karikatural, sehingga cenderung simpel dan mudah seseorang pemirsa mampu merepresentasikan bahwa figur tersebut adalah SoekarnoKesan ruang dan perspektif hanya diperlukan sedikit untuk menunjukkan obyek podium sebagai tempat berdiri Soekarno dengan menggunakan raster untuk menambah kesan gelap terang (tonality).

Dari analisa visual terhadap gambar-gambar yang hadir pada karya kartun politik ini dapat disimpulkan ciri-ciri visual sebagai berikut :

  1. Dihadirkan dua pihak yang saling bertentangan yaitu figur Soekarno dan gambar tangan yang berusaha menjatuhkan kekuasaan Soekarno.
  2. Sosok tangan sebagai representasi rakyat Indonesia dengan kekuatan hukum yaitu UUD’45 dan Pancasila, sementara figur Soekarno tampil postur yang lebih kecil.
  3. Penggambaran Soekarno ditampilkan long shot, sementara sosok tangan ditampilkan close up.

c.  Interpretasi Ikonologis

Dalam kartun ini ditampilkan dua figur yang saling berlawanan. Figur pertama adalah figur Soekarno merupakan sosok sentral pada masa Pemerintahan Orde Lama. Sebagai figur yang mendominasi pada waktu itu dengan bentuk pemerintahan Soekarno (metafora pemegang kekuasaan) yang dinamakan ”Demokrasi Terpimpin”, walaupun prakarsa pelaksanaannya diambilnya bersama-sama dengan pimpinan angkatan bersenjata. T. Sutanto mengkaitkan peristiwa pada saat Soekarno menguraikan ideologi demokrasi terpimpin, yang kemudian dinamai MANIPOL (dari Manifesto Politik).

Walaupun secara visual figur Soekarno terlihat utuh (long shot), namun secara keseluruhan tampilan Soekarno cenderung tidak dominan, disini T. Sutanto ingin menggambarkan posisi Soekarno walaupun mempunyai kekuasaan dan kharisma yang tinggi namun tak berdaya dengan kekuatan dari UUD’45 dan Pancasila.

Dari penjelasan T. Sutanto terdapat beberapa hal yang menarik mengenai tampilan Soekarno, dimana T. Sutanto mengaku kurang telaten dan tidak mahir seperti dalam penggambaran wajah seorang figur dalam karikatural. Tetapi lebih mementingkan situasi yang mendukung pesan dalam kartun tersebut bukan wajah (karikatur).

Seperti figur Soekarno tampil dengan tarikan garis yang simpel namun dengan artifaktual baik pakaian kebesaran (penuh dengan medali penghargaan) dengan peci serta gesture yang mewakili karakter Soekarno, maka T. Sutanto dalam menampilkan figur Soekarno berhasil.

Obyek gambar medali penghargaan yang digambarkan sangat banyak di pakaian Soekarno, menurut T. Sutanto sebagai representasi dari sikap Soekarno seperti, otoriter, kepercayaan diri yang besar, gila kekuasaan, pengakuan diri sebagai presiden seumur hidup, dan politik mercusuarnya.

Sedangkan figur kedua adalah sosok kedua tangan yang memegang dua buku bertuliskan UUD’45 dan Pancasila sebagai metafora keinginan rakyat Indonesia sebagai penguasa tertinggi. Secara tidak langsung dalam kartun politik, T. Sutanto mengritik Soekarno dengan ideologi-ideologinya yang tidak sesuai dengan kehendak para rakyat yang menyebabkan jatuhnya kekuasaan Soekarno.

KESIMPULAN

Kartun editorial lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan. Mengenai kandungan kritiknya dalam kartun editorial yang sering lugas, tegas kadangkala pedas, tampaknya dipengaruhi oleh situasi dalam menyikapi kebijakan atau peristiwa yang sedang terjadi.

Untuk mengetahui makna dan pola visual  yang terdapat pada kartun editorial, maka pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ikonografis dan ikonologis. Dalam pendekatan ini yang menitikberatkan pada penelaahan makna dalam kartun editorial, perlu kemampuan dalam menginterprestasikan makna yang terkandung di dalamnya.

Pendekatan yang digunakan untuk menganalisis karya kartun editorial melalui tiga tahapan seperti analisis makna secara ikonografi dan ikonologi oleh Erwin Panofsky dimana ketiga tahapan itu berlangsung berurutan. Erwin Panofsky menjelaskan dalam ikonografi merupakan kajian yang memperhatikan konfigurasi dari gambar pada suatu karya untuk mengetahui makna yang tersembunyi. Selanjutnya Panofsky memberi tahapan dalam menganalisis, yaitu tahap preiconographical, iconography, dan iconology.

Dalam kajian ini, faktor kartunis (sebagai pencipta) menjadi penting untuk dibicarakan karena latar belakang, kondisi sosial, dan aspek psikologis berpengaruh pada pengambilan keputusan dalam menampilkan suatu gambar visual. Namun dalam hal ini, aspek yang diutamakan adalah aspek formal yang membahas aspek kualitas visual yang akan dikaji secara lebih mendalam. Sehingga dari analisis ikonografi dan ikonologi diharapkan akan menghasilkan sebuah hasil yang komprehensif untuk melihat karya kartun editorial dengan mengkaitkan antara pola visual dan makna yang terdapat didalam karya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aly, Rum, 2006, Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966, Mitos dan Dilema : Mahasiswa dalam Proses Perubahan Politik 1965-1970, KATA HASTA PUSTAKA, Jakarta.

Anderson, Benedict R.O’G., 1990, Language and Power: Exploring Political Culture of Indonesia, Ithaca : Cornell University Press.

Bishop, Franklin, 2006, The Cartoonist’s Bible, Quarto Publishing plc, London.

Bonneff, Marcel, 1998, Komik Indonesia, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Budiman, Kris, 1999, Kosa Semiotika, LKIS, Yogyakarta

____________, 2003, Semiotika Visual, Penerbit Buku Baik, Yogyakarta.

Liliweri, Alo, M.S. 1994, Komunikasi Verbal dan Nonverbal, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Mahamood, Mulyadi, 1999, Kartun dan Kartunis, Stilglow Sdn. Bhd, Selangor.

Mallarangeng, Andi A., 2007, Dari Kilometer 0,0, Indonesia RDI, Jakarta.

Masdiono, Toni, 1998, 14 Jurus Membuat Komik, Creative Media, Jakarta.

McCloud, Scott, 2001, Understanding Comics, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Odgen, C. dan Richard, I., 1923, The Meaning of Meaning, Routledge & Kegan Paul, London.

Panofsky, Erwin, 1955, Meaning in The Visual Arts, Doubleday Anchor Books, New York.

______________,1939, Studies in Iconology, Oxford University Press, New York.

Pramoedjo, Pramono R., 2008, Kiat Mudah Membuat Karikatur : Panduan Ringan dan Praktis Menjadi Karikaturis Handal, Creative Media, Jakarta.

Priyanto, S., 2005, Metafora Visual Kartun pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957, Disertasi, FSRD ITB, Bandung.

Setiawan, Muhammad Nashir, 2002, Menakar Panji Koming, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Sibarani, Agustin, 2001, Karikatur dan Politik, Garda Budaya, Jakarta.

Sudarta, GM., 1987, Karikatur Mati Ketawa Cara Indonesia, Prisma, LP3ES, Jakarta.

___________, 2007, 40 Th Oom Pasikom, Peristiwa dalam Kartun Tahun 1967-2007, Kompas, Jakarta.

Susanto, Astrid S., 1974, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, Binacipta, Bandung.

Suwirya, 1999, Karikatur dan Kritik Sosial Pada Masa Revolusi Indonesia (1945-1947), Jurnal Sejarah-7, Gramedia, Jakarta.

Tabrani, Primadi, 2005, Bahasa Rupa, Penerbit Kelir, Bandung.

 Sumber lain :

Artikel :

Ajidarma, Seno Gumira, Mang Ohle, Tokoh yang Digambar Lima Kartunis, Intisari, Edisi No. 582, Juli 2007.

Nada, Ahmad, Kartun dan Karikatur, Homo Humanis-Humoris Dalam Pers Kita, Pikiran Rakyat, Sabtu, 09 Juli 2005. 

Website :

Imran, Ahda, Banyak yang Ditertawakan di Indonesia, http://www.pikiran rakyat.com/cetak/0103/05/06.htm  diakses 20 Agustus 2008

Sonnesson,Goran,1999,PictorialSemiotics,www.arthist.lu.se/kultsem/sonesson/baksida.html.      diakses 10 Maret 2008

Woodrow, Ross, 1999, Introduction to Iconography, www.aber.ac.uk. diakses 20 Agustus 2008.

http://www.letitpass.com/images/punch1946.gif  diakses 20 Agustus 2008.

Abstrak

Kartun editorial (politik) lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan. Mengenai kandungan kritiknya dalam kartun editorial yang sering lugas, tegas kadangkala pedas, tampaknya dipengaruhi oleh situasi dalam menyikapi kebijakan atau peristiwa yang sedang terjadi.

Pesan dalam kartun politik era tahun 1965 tampak dengan gaya visualnya yang sederhana, memperhitungkan segi artistik seperti memperhitungkan komposisi, hitam putih, dan pengolahan blok. Kartun politik era tahun 1965 lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan, sehingga karya kartunnya lebih mengutamakan pesan bukan kebagusan teknis.  Dalam era tahun 1965, kartun politik memikirkan betul kandungan humor dalam setiap karya kartunnya.

Penggunaan bahasa verbal adalah aspek lingusitik yang seringkali tidak dapat dihindari dalam tampilan sebuah karya kartun politik. Pemanfaatan unsur-unsur verbal seperti kata, frasa, kalimat, wacana disamping gambar-gambar jenaka sangat diperlukan sebagai unsur terpenting dalam kartun. Komunikasi non-verbal acapkali dipergunakan untuk menggambarkan perasaan dan emosi, komunikasi non-verbal acapkali disebut komunikasi tanpa kata (karena tidak berkata-kata). Karakteristik dari komunikasi non-verbal adalah pemaknaan pesan non-verbal maupun fungsi non-verbal memiliki perbedaan dalam cara dan isi kajiannya.

Key words : kartun politik, bahasa ungkap.

Pendahuluan

Kartun diciptakan berawal dari satu gagasan yang dimulai dari realitas yang disajikan. Kartun tampil tidak sekedar hanya untuk memberikan informasi sebagaimana berita, tetapi kartun memberinya dimensi, sehingga realitas yang disajikan terasa bertambah berwarna selain juga membuat relasinya tersenyum dan tertawa walau kadang terasa getir.

Kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentatif dan simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga menjadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai kepribadian seseorang (Setiawan, 2002:34). Dengan kata lain, kartun merupakan metafora visual hasil ekspresi dan interpretasi atas lingkungan sosial politik yang tengah dihadapi oleh seniman pembuatnya.

Media kartun biasanya disajikan sebagai selingan setelah para pembaca menikmati rubrik-rubrik atau artikel yang lebih serius. Melalui kartun, para pembaca dibawa ke dalam situasi yang lebih santai. Meskipun pesan-pesan di dalam beberapa kartun sama seriusnya dengan pesan-pesan yang disampaikan lewat berita dan artikel, namun dengan kartun dapat dengan mudah dicerna dan dipahami maknanya. Walaupun bukanlah menjadi tujuan utama orang dalam membaca suatu surat kabar kehadiran kartun sebagai bagian dari rubrik dari surat kabar. Kehadiran kartun harus diakui mampu menyampaikan pesan yang amat luas, mendalam, dan tajam dalam menyikapi kondisi riil yang berkembang di masyarakat kita.

Kritik kartun sebenarnya hanya usaha penyampaikan masalah aktual ke permukaan, sehingga muncul dialog antara yang dikritik dan yang mengkritik, serta dialog antara masyarakat itu sendiri, dengan harapan akan adanya perubahan. Aspek pertentangan dalam tradisi penciptaan kartun sebenarnya bukanlah lebih mementingkan naluri untuk mengkritik, melainkan lebih menekankan fakta-fakta historis bahwa masyarakat telah memasuki bentuk komunikasi politik yang modern, dan tidak lagi mempergunakan kekuatan atau kekuasaan (Anderson, 1990:162).

Pengertian dan Klasifikasi Kartun

Pengertian kartun yang sebenarnya adalah meminjam istilah dari bidang  fine arts. Kata kartun berasala dari bahasa Itali cartone yang berarti ”kertas”. Kata kartun pertama-tama digunakan untuk menyebut desain atau sketsa dalam ukuran penuh untuk lukisan cat minyak, permadani atau mozaik. Kata tersebut memperoleh arti yang dikenal orang masa kini secara kebetulan.

Beberapa desainnya sangat buruk sehingga Punch mereproduksi kartun-kartun yang dimaksudkan untuk desain itu, lalu menerangkannya dengan nada sindiran. Lahirlah kartun Punch, dan kata itupun lalu memperoleh arti barunya. ”Punch” merupakan majalah satir yang menjadi media kritik kebijakan pemerintah yang tidak sesuai aspirasi masyarakat. Sejak saat itu kata ”cartoon” mulai dipakai untuk menyebut gambar sindir (Wagiono, 1983:33).

Pengertian kartun adalah sebuah gambar yang bersifat reprensentasi atau simbolik, mengandung unsur sindiran, lelucon, atau humor. Kartun biasanya muncul dalam publikasi secara periodik, dan paling sering menyoroti masalah politik atau masalah publik. Namun masalah-masalah sosial kadang juga menjadi target, misalnya dengan mengangkat kebiasaan hidup masyarakat, peristiwa olahraga, atau mengenai kepribadian seseorang. (Setiawan, 2002:34).

Dalam The Encyclopaedia of Cartoons (Horn, 1980:15-24), pengertian ”cartoon” dibagi lagi menjadi empat jenis sesuai dengan kegiatan yang ditandainya, yaitu : Comic Cartoon, Gag Cartoon untuk lelucon sehari-hari, Political Cartoon untuk gambar sindir politik, Animated Cartoon untuk film kartun.

Pengertian Kartun editorial (editorial cartoon) yang digunakan sebagai visualisasi tajuk rencana surat kabar atau majalah. Kartun ini biasanya membicarakan masalah politik atau peristiwa aktual sehingga sering disebut kartun politik (political cartoon). Dalam kartun politik, seringkali muncul figur dari tokoh terkenal yang dikaitkan dengan tema yang sedang hangat-hangatnya yang terjadi di dalam masyarakat. Karikatur bisa saja muncul dalam sebuah karya kartun editorial untuk menampilkan tokoh yang disindir (Priyanto,2005:4).

Penggunaan istilah antara karikatur dan kartun masih sering digunakan dan menjadikan keduanya rancu. Karikatur diartikan sebagai gambar sindir serius (satire) sedangkan kartun hanyalah gambar lucu (Sibarani, 2001:9-11). Untuk menghindari kerancuan antara istilah karikatur dan kartun, dalam artikel ilmiah ini menggunakan istilah ”Kartun Politik (Political Cartoon)” agar membatasi lingkup kegiatan khusus, yaitu sindiran yang dimuat di media surat kabar dan majalah sebagai editorial (tajuk rencana). Kartun ini biasanya membicarakan masalah politik atau peristiwa aktual sehingga sering disebut kartun politik (political cartoon).

Tinjauan Singkat Kartun Politik Indonesia Tahun 1965

Sekitar tahun 1965, terbit surat kabar mingguan Mahasiswa Indonesia edisi Jawa Barat pada tanggal 19 Juni 1966 di Bandung berbentuk tabloid yang dikelola oleh aktivis-aktivis mahasiswa angkatan 66 dari berbagai perguruan tinggi di Bandung terutama ITB dan UNPAD. Dengan diterbitkannya Mahasiswa Indonesia ini mempunyai arti yang besar, dimana ia menjadi menjembatani hubungan antara Mahasiswa Indonesia dengan kelompok militer, terutama dengan Siliwangi.  Mingguan Mahasiswa Indonesia populer dalam kampanye menjatuhkan Soekarno dan menjadi media kaum intelektual dalam melahirkan konsep-konsep awal Orde Baru.

Dalam setiap penerbitannya mingguan ini menyajikan rubrik kartun yang tematik sesuai fokus berita dan situasi aktual yang terjadi. Bersama rekan-rekannya, seperti Haryadi Suadi, Sanento Yuliman, Keulman (Ke), Dendi Sudiana, Ganjar Sakri (Gas), T. Sutanto (TS) yang merupakan kartunis mahasiswa boleh dikatakan berani melancarkan kritikan-kritikan terhadap pemerintahan pada masa itu.

Dengan coretan yang sederhana tetapi langsung pada sasarannya, mereka mencoba menelanjangi kepincangan dalam sikap hidup yang terjadi pada masa itu, serta ungkapan rasa ketidakpuasan terhadap pemimpin dan pemerintahannya. Pada waktu pers mahasiswa mempunyai ciri tersendiri dalam gaya menulis dan keberaniannya untuk mengkritik dengan sangat pedas.

Bahwa mahasiswa selain diluar dunia kegiatan akademis (dengan kadang-kadang mempunyai ikatan-ikatan afiliasi kepada suatu ormas atau orpol yang harus dihindari) belum terikat statusnya, belum tergolong dalam functional group yang diikat oleh unsur esprit de corps ataupun vested interest (Susanto, 1974:442).

Sampai beberapa bulan setelah usaha kudeta 1965, masa depan politik Indonesia masih belum jelas. Pada akhirnya, Soeharto membangun apa yang dikenal ’Orde Baru’ Indonesia, untuk membedakannya dengn ’Orde Lama’ dari masa pemerintahan Soekarno. Orde Baru dibentuk dengan dukungan yang sangat besar dari kelompok-kelompok yang ingin terbebas dari kekacauan masa lalu.

Namun dalam perjalanan waktu, kondisi pada masa Orde Baru juga mengalami pasang surut, dimana korupsi merajalela, pertentangan politik, keadaan ekonomi, kewibawaan hukum yang dipertanyakan, dan masalah sosial lainnya seperti keamanan yang kurang stabil.

Dari kondisi masyarakat yang seperti itu, membuat perkembangan gaya kartun politik lebih bersifat tajam walau dengan kandungan humor yang lebih kental namun satire, daripada masa Orde Lama dikarenakan masyarakat belajar dari pengalaman masa lalu yang menjadikan masyarakat lebih kritis, peka, dan sensitif. Setiap era pemerintahan dalam menjalankan kekuasaan pasti harus menghadapi kenyataan akan kritik dari masyarakat sebagai kontrol terhadap pemerintah, namun di era Orde Baru, pembatasan terhadap kebebasan bersuara lebih terasa sekali dan cenderung bersifat represif.

Pemerintah Orde Baru mempunyai kekuasaan mutlak untuk membatasi bahkan menghilangkan kritik dari masyarakat. Ditambah lagi pembentukan KOPKAMTIB, yang dianggap memasung kebebasan pers dan kehidupan demokrasi. Seperti yang dialami GM Sudarta pada tahun 1974 yaitu larangan pemuatan karya kartunnya selama 11 bulan.

Dengan tindakan represif terhadap segala kritikan dengan tindakan pengaman, membuat masyarakat segan dan takut untuk mengkritisi pemerintah yang berkuasa. Kondisi bawahan takut mengemukakan pikiran-pikiran baru yang berlainan dari yang disenangi kaum ”establishmen”, dan tidak berani mengeluarkan kritik atau peringatan-peringatan agar jangan terus salah jalan, tidak berani menyampaikan fakta-fakta yang tidak menyenangkan sang bapak, sedang bapak-bapak sudah merasa puas diri dalam salah tafsir sikap feodal bahwa kuasa adalah sama dengan bijaksana, pandai, maha tahu segala, maha benar senantiasa (Lubis, 1977:31).

Gejala tersebut juga menghinggapi kehidupan dunia kartun, walau muncul beberapa tokoh kartun dalam beberapa media cetak, seperti Mang Ohle di Pikiran Rakyat, Oom Pasikom di Kompas, dan  Keong di Sinar Harapan yang meramaikan dengan gaya dan opini yang berbeda-beda. Pada masa ini kartun hanya berfungsi melakukan penilikan sosial dengan mengambil tema-tema seperti, kejadian sehari-hari masyarakat, menanggapi kebijakan pemerintah dan tingkah laku pejabat yang menduduki kekuasaan tertentu dalam pemerintahan. Selama masa Orde Baru, penerbitan berita atau opini yang berbau politik terhadap pemerintah, kepala negara, petinggi negara, hingga aparat, selalu dihantui pembreidelan atau pencabutan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) (Setiawan, 2002:12).

Bahasa Ungkap  dalam Kartun Politik

A. Bahasa Verbal

Penggunaan bahasa verbal adalah aspek lingusitik yang seringkali tidak dapat dihindari dalam tampilan sebuah karya kartun. Pemanfaatan unsur-unsur verbal seperti kata, frasa, kalimat, wacana disamping gambar-gambar jenaka sangat diperlukan sebagai unsur terpenting dalam kartun. Berbagai teknik digunakan dalam memberi variasi pada teks seperti kata-kata tertentu diberi tekanan dengan dicetak tebal atau dengan bentuk tipografi khusus.

Dalam khazanah bahasa dalam komik yang juga terdapat dalam kartun, perbendaharaan kata terentang dari wilayah visual hingga wilayah verbal, dari bentuk gambar hingga bentuk tulisan. Scott McCloud (2001:51) menyatakan bahwa hal ini bukanlah sesuatu yang baru, karena pada awalnya adalah gambar dan tulisan memang menyatu. Abjad pada awalnya adalah gambar berstilasi; pada perkembangan selanjutnya ia menjadi semakin abstrak dan akhirnya unsur gambarnya hilang.

Dalam kartun sering terdapat ungkapan-ungkapan khas yang menempati wilayah diantara visual dan verbal, yaitu bentuk-bentuk gambar yang telah menyimbol atau sebaliknya bentuk tulisan yang mengikon. Ungkapan-ungkapan ini dikenal sebagai quipu (tanda atau simbol), dan onomatopea. Bentuk quipu yang menonjol adalah balon dan panel. Balon menunjukkan ucapan atau pikiran suatu obyek, dan panel menunjukkan pemisahan waktu dan ruang.

Ada beberapa cara di dalam kartun untuk menampilkan tulisan atau huruf secara visual, yakni : sebagai judul yang ditulis besar dan biasanya terletak diatas, sebagai caption (keterangan gambar), sebagai balon kata (berisi dialog), sebagai identitas nama atau ”label” (identifikasi tertulis yang diletakkan pada objek), dan sebagai onomatopea (peniruan verbal pada bunyi tanpa arti seperti dor, huh) (Priyanto, 2005:116).

B. Bahasa Non-verbal

Komunikasi non-verbal acapkali dipergunakan untuk menggambarkan perasaan dan emosi, komunikasi non-verbal acapkali disebut komunikasi tanpa kata (karena tidak berkata-kata). Karakteristik dari komunikasi non-verbal adalah pemaknaan pesan non-verbal maupun fungsi non-verbal memiliki perbedaan dalam cara dan isi kajiannya. Pemaknaan (meanings) merujuk pada cara interprestasi suatu pesan; sedangkan fungsi (functions) merujuk pada tujuan dan hasil suatu interaksi.

Pembagian bahasa non-verbal, menurut Knapp dan Tubs (1978) dalam Liliweri menjadi tujuh kelompok, antara lain, yaitu : gerakan tubuh (kinesik), karakteristik fisik yang meliputi gerakan/keadaan penampilan tubuh secara menyeluruh, perilaku meraba, paralinguistik, proksemik, artifacts, dan faktor lingkungan (Liliweri, 1994:112-113).

Tubuh manusia merupakan transmiter utama kode-kode presentasional,  Argyle (1972) dalam Fiske (2006:124) membuat susunan daftar 10 kode, yaitu : kontak tubuh, proksimity (proksemik), orientasi, penampilan, anggukan kepala, ekspresi wajah, gestur (kinesik), postur, gerak mata dan kontak mata, dan  aspek non verbal percakapan.

Sedangkan Duncan dalam Liliweri (1994:114) menjelaskan pembagian dimensi bahasa non-verbal menjadi enam jenis, yaitu : gerakan tubuh: misalnya perilaku kinesik: gestures dan gerakan anggota tubuh termasuk ekspresi wajah, gerakan mata, dan postur tubuh, paralinguistik : kualitas suara, pengaruh ujaran, suara-suara seperti tertawa, teriakan, berdengung, proksemik : persepsi pribadi maupun sosial terhadap cara penggunaan ruang dan jarak fisik ketika berkomunikasi, penciuman, kepekaan kulit, penggunaan artefak seperti pakaian dan kosmetik.

Untuk penelaahan karya kartun, pengamatan untuk bahasa non-verbal kinesik dan pesan artifaktual akan membantu untuk mengkaji dan mengetahui makna dari kartun tersebut, seperti menurut Bellak dan Baker (1981) dalam Liliweri (1994:143-148) ada tiga macam bentuk dan tipe gerakan tubuh, yaitu :

  1. Kontak mata (Gaze). Kontak mata juga mengacu pada sesuatu yang disebut dengan gaze yang meliputi suatu keadaan penglihatan secara langsung antar orang (selalu pada wilayah wajah) di saat sedang berbicara. Kontak mata sangat menentukan kebutuhan psikologi dan membantu kita memantau efek komunikasi antarpribadi. Melalui kontak mata anda dapat menceriterakan kepada orang lain suatu pesan sehingga orang akan memperhatikan kata demi kata melalui tatapan. Misalnya pandangan sayu, cemas, takut, terharu, dapat mewarnai latar belakang psikologis Anda. Jumlah dan cara-cara penataan mata berbeda dari seseorang dengan orang yang lainnya, dari budaya yang satu ke budaya yang lain.
  2. Ekspresi wajah. Didalamnya meliputi raut wajah yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara emosional atau bereaksi terhadap suatu pesan. Wajah setiap orang selalu menyatakan hati dan perasaannya. Wajah ibarat cermin dari pikiran, dan perasaan. Melalui wajah orang juga bisa membaca makna suatu pesan. Pernyataan wajah menjadi masalah ketika (1) ekspresi wajah tidak merupakan tanda perasaan; atau (2) ekspresi wajah yang dinyatakan tidak seluruhnya/tidak secara total merupakan tanda pikiran dan perasaan.
  3. Gestures. Gestures merupakan bentuk perilaku non verbal pada gerakan tangan, bahu, dan jari-jari. Penggunaan anggota tubuh secara sadar maupun tidak sadar yang berfungsi untuk menekankan suatu pesan. Ternyata manusia mempunyai banyak cara dan bervariasi dalam menggerakan tubuh dan anggota tubuhnya ketika mereka sedang berbicara. Mereka yang cacat bahkan berkomunikasi hanya dengan tangan saja. Gerakan tubuh dapat dikategorikan menjadi beberapa macam tipe, yakni :
  • Affect display. Perilaku affect display selalu mengambarkan perasaan dan emosi. Wajah merupakan media yang paling banyak digunakan untuk menunjukkan reaksi terhadap pesan yang direspons.
  • Emblem. sebagai terjemahan pesan non verbal yang melukiskan sesuatu makna bagi suatu kelompok sosial. Tanda ’V’ menunjukkan suatu tanda kekuatan dan kemenangan yang biasanya dipakai dalam kampanye presiden di Amerika Serikat. Atau di Indonesia dipakai untuk menunjukkan kemenangan Golkar.
  • Ilustrator. Tanda-tanda non verbal dalam komunikasi. Tanda ini merupakan gerakan anggota tubuh yang menjelaskan atau menunjukkan contoh sesuatu. Seorang ibu melukiskan ukuran tubuh putrinya yang seusia anak SD dengan menaikturunkan tangannya dari permukaan tanah.
  • Adaptor.Sebuah gerakan anggota tubuh yang bersifat spesifik. Pada mulanya gerakan ini berfungsi untuk menyebarkan atau membagi ketegangan anggota tubuh, misalnya meliuk-meliukan tubuh, memulas tubuh, menggaruk kepala, dan loncatan kaki. Sebagai contoh gerakan mengusap-usap kepala orang lain sebagai tanda kasih sayang (alters adaptors), sedangkan gerakan menggaruk kepala untuk menunjukkan kebingungan (self adaptors).
  • Regulator. Gerakan yang berfungsi mengarahkan, mengawasi, mengkoordinasi interaksi dengan seksama. Sebagai contoh, kita menggunakan kontak mata sebagai tanda untuk memperhatikan orang lain yang sedang berbicara dan mendengarkan orang lain. Regulator merupakan tanda utama yang bersifat interaktif, bentuknya ikonik dan intrinsik.

Ketika berkomunikasi non-verbal maka banyak orang mempelajari mengenai pernyataan diri dengan melalui tanda dan simbol yang memberikan pesan tertentu. Salah satu bentuk pernyataan diri adalah pakaian. Sebagai pesan artifaktual, adalah pakaian akan membentuk citra tubuh. Pakaian merupakan salah satu bentuk daya tarik fisik yang melekat pada tubuh seseorang. Orang bisa menerka ekspresi emosi dan perasaan melalui pakaian dan asesories yang melengkapinya.

Penyampaian pesan non-verbal yang sangat berpengaruhi adalah mengenai cara pengambilan gambar, menurut Wiil Eisner (1985: 42) ada tiga cara pengambilan gambar, yaitu : (1) Full Figure (Long Shot), yaitu cara pengambilan gambar yang menunjukkan keseluruhan tubuh dari kepala sampai kaki, (2) Medium (Medium Close Up), cara pengambilan gambar yang memperlihatkan mulai bagian kepala sampai bahu, (3) Close Up, cara pengambilan gambar yang hanya memperlihatkan bagian kepala saja.

Kesimpulan

Kartun editorial (politik) lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan. Mengenai kandungan kritiknya dalam kartun editorial yang sering lugas, tegas kadangkala pedas, tampaknya dipengaruhi oleh situasi dalam menyikapi kebijakan atau peristiwa yang sedang terjadi.

Dalam era tahun 1965, kartun politik menggunakan bahas ungkap visual dengan berbagai, yakni : sebagai judul yang ditulis besar dan biasanya terletak diatas, sebagai caption (keterangan gambar), sebagai balon kata (berisi dialog), sebagai identitas nama atau ”label” (identifikasi tertulis yang diletakkan pada objek), dan sebagai onomatopea (peniruan verbal pada bunyi tanpa arti seperti dor, huh. dsb.).

Penyampaian pesan non-verbal yang sangat berpengaruhi adalah mengenai cara pengambilan gambar dalam kartun politik era tahun 1896 lebih banyak menggunakan  Full Figure (Long Shot), yaitu cara pengambilan gambar yang menunjukkan keseluruhan tubuh dari kepala sampai kaki, sehingga semua elemen kartun tersebut tampil untuk menunjukkan pesan yang ingin disampaikan. Namun kadangkala juga menggunakan cara pengambilan gambar memakai tipe Medium Close Up, cara pengambilan gambar yang memperlihatkan mulai bagian kepala sampai bahu, serta tipe Close Up, cara pengambilan gambar yang hanya memperlihatkan bagian kepala saja.

Pesan dalam kartun politik era tahun 1965 tampak dengan gaya visualnya yang sederhana, memperhitungkan segi artistik seperti memperhitungkan komposisi, hitam putih, dan pengolahan blok. Kartun politik era tahun 1965 lebih mengedepankan pesan dan situasi penggambaran kartun daripada figur atau tokoh yang dimunculkan, sehingga karya kartunnya lebih mengutamakan pesan bukan kebagusan teknis.  Dalam era tahun 1965, kartun politik memikirkan betul kandungan humor dalam setiap karya kartunnya.

Kartunis era tahun 1965 dalam menyampaikan kritik yang kadang terasa tajam khususnya pada masa akhir Orde Lama dan munculnya Orde Baru tersebut sebagai keputusan yang dipengaruhi oleh situasi pada saat itu dimana semangat untuk mengadakan perubahan di masyarakat. Selain itu kartunis di era tahun 1965, dalam karya kartun politik memilih gaya penggambaran yang efisien, efektif, dan spontan serta lebih mementingkan kualitas dibalik rupa. Oleh karena itu kartunis di era tahun 1965  tidak terlalu suka kebagusan teknik gambar, tapi lebih ketepatan gagasan.

Daftar Pustaka

Anderson, Benedict R.O’G., 1990, Language and Power: Exploring Political Culture of Indonesia, Ithaca : Cornell University Press.

Bishop, Franklin, 2006, The Cartoonist’s Bible, Quarto Publishing plc, London.

Lubis, Mochtar, 1977, Manusia Indonesia, Idayu Pers, Jakarta.

Mahamood, Mulyadi, 1999, Kartun dan Kartunis, Stilglow Sdn. Bhd, Selangor.

McCloud, Scott, 2001, Understanding Comics, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.

Priyanto, S., 2005, Metafora Visual Kartun pada Surat Kabar Jakarta 1950-1957, Disertasi, FSRD ITB, Bandung.

Rauf, Maswadi, 1993, Komunikasi Politik : Masalah Bidang Kajian dalam Ilmu Politik, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Setiawan, Muhammad Nashir, 2002, Menakar Panji Koming, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.

Sibarani, Agustin, 2001, Karikatur dan Politik, Garda Budaya, Jakarta.

Susanto, Astrid S., 1974, Komunikasi dalam Teori dan Praktek, Binacipta, Bandung.

Wagiono, 1983, The Change of Styles in Graphics Satires, Thesis, Pratt Univ. NY.

Biodata Penulis

Basnendar H, S.Sn., M.Ds

Selain menjadi staf pengajar di FSRD Institut Seni Indonesia Surakarta, merupakan kartunis freelance yang sering dimuat di berbagai media cetak lokal maupun nasional. Beberapa kali memenangkan lomba kartun nasional dan desain logo, salah satunya Logo Galeri Nasional, Jakarta (2000), Pemenang utama sayembara desain logo “I5 Years Of Commitment” Program Magister Manajemen Universitas Gajah Mada (MMUGM) (2002), dan Pemenang Utama Logo Pekan Olahraga Jawa Tengah 2009 (2008). Menyelesaikan pendidikan S1 di DKV FSRD Universitas Sebelas Maret Surakarta (1997), dan kemudian melanjutkan kuliah S2 di Program Magister Desain FSRD ITB Bandung (2008).